Kondisi epilepsi sebagai gangguan neurologis kronis yang ditandai oleh aktivitas listrik abnormal di otak telah menjadi tantangan medis global selama berabad-abad.
Meskipun perkembangan obat antiepilepsi (OAE) telah mencapai kemajuan signifikan, sekitar sepertiga dari populasi pasien tetap mengalami epilepsi refraktori atau kebal obat.
Fenomena ini memicu kebutuhan mendesak akan pendekatan non-farmakologis yang rasional dan empiris.
Pengobatan tanpa obat saat ini tidak lagi dipandang sebagai alternatif yang marjinal, melainkan sebagai komponen integral dari manajemen holistik yang mencakup intervensi metabolik, stimulasi saraf non-invasif, pengobatan herbal berbasis bukti, dan teknik regulasi mandiri otak.
Laporan ini menyajikan riset mendalam mengenai spektrum pengobatan non-medis, dengan fokus pada efektivitas klinis, mekanisme biologis, dan harapan baru bagi pasien untuk mencapai kondisi bebas kejang melalui jalur alamiah.
Perspektif Naturopati: Filosofi Functional Medicine dan Akar Penyebab Epilepsi
Naturopati dalam konteks neurologi modern mengadopsi prinsip functional medicine yang menekankan pada identifikasi ketidakseimbangan sistemik sebagai pemicu aktivitas kejang.
Berbeda dengan pendekatan konvensional yang sering kali berfokus pada penekanan gejala listrik, naturopati mengevaluasi interaksi antara genetika, lingkungan, dan gaya hidup pasien untuk mengungkap akar penyebab gangguan saraf tersebut.
Dalam pandangan ini, epilepsi dipahami sebagai manifestasi dari ambang batas kejang yang rendah, yang sering kali dipengaruhi oleh peradangan kronis, ketidakseimbangan neurotransmiter, dan defisiensi mikronutrien. Continue reading →
PAZindonesia.com – Gaes, Pengobatan Modern Menjanjikan Kesembuhan, Namun Efek Samping Berbahayanya Tidak Bisa Diabaikan.
Benar, secara teknologi semakin hari semakin modern berkembang sangat pesat. Obat-obatan baru terus bermunculan dengan klaim ilmiah yang kuat, didukung riset, uji klinis, dan publikasi jurnal bereputasi.
Bagi masyarakat awam, ini memberi rasa aman. Selama berobat ke dokter dan minum obat secara rutin, penyakit dianggap terkendali.
Namun, dunia medis sendiri sejak lama mengakui satu fakta penting. Tidak ada obat yang sepenuhnya bebas risiko. Setiap obat memiliki potensi efek samping, terutama bila digunakan jangka panjang pada penyakit kronis.
Sebuah tinjauan besar di jurnal Anaesthesia menjelaskan bahwa adverse drug reactions atau reaksi obat merugikan merupakan salah satu penyumbang utama meningkatnya angka kesakitan dan kematian pasien, bahkan pada terapi yang dianggap standar dan rutin [1]. Hal ini dipertegas oleh ulasan di BMJ yang menyatakan bahwa semakin kompleks terapi obat, semakin tinggi pula risiko efek samping serius yang sering tidak disadari pasien maupun tenaga kesehatan [2]. Continue reading →
Kesadaran mengenai postur duduk yang benar terus meningkat karena semakin banyak riset biomekanik yang menunjukkan bagaimana posisi tubuh ketika duduk dapat memengaruhi kesehatan jangka panjang.
Di era kerja digital yang menuntut seseorang duduk berjam jam, pemahaman tentang duduk ergonomis menjadi kebutuhan dasar.
Postur duduk bukan hanya perihal rasa nyaman, tetapi menentukan apakah tekanan pada tulang belakang terdistribusi secara aman atau justru mempercepat degenerasi jaringan.
Dalam berbagai penelitian, sedikit perubahan sudut punggung dapat melipatgandakan tekanan pada diskus. Continue reading →
Alhamdulillah, telah terbit Jurnal Teologi Islam berjudul “Teologi Struktur Tubuh dan Kesehatan Manusia dalam Perspektif Metode Terapi PAZ” yang ditulis oleh Paztrooper Ustadz Danni Nursalim dan Bapak Engkos Kosasih dari Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung.
Saya coba mereview jurnal tersebut untuk pembaca sekalian, saya membuka ulasan ini dengan pengakuan atas pentingnya publikasi tersebut bagi pengembangan kajian teologis yang relevan dengan praktik kesehatan.
Yang jelas, saya sangat berbahagia melihat karya yang dituangkan dalam Jurnal Teologi Islam ini, karena kehadirannya menandai langkah komunitas PAZ menuju ranah akademik yang mampu diuji dan dikritisi secara ilmiah.
Ulasan berikut disusun untuk membaca struktur argumentasi jurnal yang ditulis, menilai kontribusi teoretis dan metodologisnya, serta memberi rekomendasi kajian lanjutan.
Saya menekankan bahwa sebutan “jurnal yang ditulis” akan merujuk pada naskah yang dipublikasikan dalam Jurnal Teologi Islam tersebut.
Daftar Isi
Daftar isi berikut dimulai dari subjudul utama agar pembaca dapat langsung melompat ke bagian inti ulasan.
Jurnal yang ditulis dan diterbitkan dalam Jurnal Teologi Islam ini layak diposisikan sebagai titik mula dialog antara teks wahyu, tradisi tafsir, dan praktik klinis berbasis pengalaman.
Sepanjang kajian saya, belum ada tulisan akademik yang secara eksplisit mengintegrasikan bacaan Qur’ani tentang tahapan penciptaan manusia dengan pendekatan terapeutik yang terstruktur seperti metode PAZ.
Signifikansi publikasi ini dua lapis.
Pertama, ia memperkenalkan bahasa konseptual yang memungkinkan diskusi teologis tentang struktur tubuh dalam koridor akademik.
Kedua, jurnal yang ditulis membuka kemungkinan verifikasi empiris atas klaim klaim praktik, sehingga posisi PAZ tidak sekadar berada pada ranah testimoni tetapi dapat diuji metodologis.
Tradisi Teologi Kesehatan lintas Agama
Pada bagian awal jurnal yang ditulis, penulis menempatkan PAZ dalam tradisi sejarah gagasan tentang tubuh dan wahyu.
Ini penting karena menghindarkan klaim keunikan yang bersifat ahistoris.
Penulis merujuk pada karya karya agama lain, termasuk karya Paus Yohanes Paulus II yang dihimpun dalam The Theology of the Body, untuk menunjukkan bahwa pemikiran tentang tubuh sebagai ruang teologis bukan fenomena baru.
Dengan menempatkan argumen awal seperti ini, jurnal yang ditulis membangun basis komparatif yang sehat.
Ia mengajak pembaca akademik untuk menerima bahwa menghubungkan wahyu dan tubuh adalah praktik reflektif lintas tradisi, sehingga klaim klaim PAZ dapat dinilai dalam perspektif yang lebih luas.
Konsep Tubuh dalam Jurnal yang Ditulis
Inti argumen dalam jurnal yang ditulis adalah pemahaman bahwa tubuh humanum bukan sekadar kumpulan organ.
Penulis mengusulkan kategori struktural sederhana, yakni rangka dibungkus daging.
Konsep ini diambil dari bacaan literal QS Al Mu’minun ayat 12 sampai 14, khususnya frasa yang secara linguistik menyatakan pembalutan tulang dengan daging.
Saya melihat kekuatan konseptual pada kesederhanaan model ini.
Model yang sederhana memudahkan formulasi hipotesis yang dapat diuji.
Namun kesederhanaan juga menuntut ketelitian operasional.
Jurnal yang ditulis sebagian besar menyadari hal ini, sehingga menyediakan kerangka diagnostik awal yang kemudian diuji melalui observasi klinis.
Landasan Tafsir dan Rujukan Klasik
Jurnal yang ditulis menempatkan tafsir klasik sebagai landasan hermeneutik yang utama.
Kutipan tafsir dari Ath Thabari, Al Baghawy, Ibnu Katsir dan Tafsir Ilmi Kemenag dipakai untuk menunjukkan bahwa urutan penciptaan memiliki narasi yang konsisten dalam khazanah tafsir.
Gambar: Foto Ustadz dani bersama IstriJur
Penulis menggunakan rujukan ini bukan untuk berhenti pada otoritas teks tetapi sebagai pijakan untuk pembacaan konseptual yang relevan dengan praktik.
Dalam ulasan ini saya menilai penggunaan tafsir tersebut cukup kuat.
Penulis mengutip konteks bahasa, kemudian mentransformasikannya menjadi hipotesis ontologis: jika tulang menjadi kerangka dasar, maka kelainan posisi tulang dapat berimplikasi pada jaringan pembungkus.
Klaim ini kemudian menjadi dasar teori terapi yang ditawarkan.
Novelti dan Kontribusi Ilmiah
Novelti utama jurnal yang ditulis adalah tiga hal.
Pertama, pengemasan struktur rangka sebagai objek teologis yang sah dan relevan untuk kajian kesehatan.
Kedua, penggabungan wahyu, logika sunnatullah, dan observasi empiris sebagai tiga pilar metodologis.
Ketiga, proposal bahwa terapi yang efektif harus mengikuti hierarki penciptaan sebagaimana ditafsirkan dari teks Qur’ani.
Kontribusi ini membuka ruang penelitian multidisipliner.
Ia menantang para peneliti di bidang biomedis biomekanik dan studi agama untuk bertemu pada pertanyaan yang sama.
Jurnal yang ditulis mengundang pengukuran kuantitatif yang jelas, misalnya pengukuran sudut, rentang gerak, dan korelasi statistik antara perbaikan struktur dan penurunan gejala.
Metodologi, Bukti Lapangan, dan Kekuatan Data
Bagian metodologi dalam jurnal yang ditulis sebagian besar bersifat observasional dan deskriptif.
Penulis mengandalkan dokumentasi kasus klinis, rekaman testimoni, dan observasi lapangan.
Untuk sebuah penelitian pionir seperti ini, pendekatan observasional adalah wajar. Ia menyediakan data awal yang penting untuk merumuskan hipotesis lebih ketat.
Saya menilai perlunya langkah lanjutan berupa desain penelitian lebih maksimal lagi, mungkin oleh rekan rekan paztrooper lainnya.
Implikasi Akademik dan Praktis
Implikasi akademik dari jurnal yang ditulis cukup luas.
Pertama, ia mendorong dialog antara studi agama dan ilmu kesehatan.
Kedua, ia menawarkan kerangka baru bagi penelitian intervensi yang berbasis rangka tubuh manusia.
Implikasi praktisnya yaitu penyusunan protokol terapi yang lebih sistematis, pelatihan praktisi berbasis bukti, serta pengembangan alat ukur diagnostik yang sesuai.
Untuk komunitas praktisi PAZ, jurnal yang ditulis menjadi referensi berguna untuk legitimasi metode.
Untuk akademisi, tulisan tersebut membuka agenda penelitian yang jelas dan terarah.
Rekomendasi Penelitian Lanjutan
Saya menyarankan langkah langkah berikut, yang dirangkum dalam tiga butir agar mudah diimplementasikan.
Desain quasi eksperimental, yakni penggunaan kelompok intervensi dan pembanding untuk menguji efektivitas koreksi struktur terhadap gejala tertentu.
Pengukuran biomekanik, meliputi pemosisian tulang, sudut sendi, dan rentang gerak yang diukur secara instrumentalis untuk mendapatkan data kuantitatif.
Integrasi tim multidisipliner, melibatkan ahli tafsir, biomekanik, fisioterapis, dan epidemiolog untuk memastikan validitas internal dan eksternal studi.
Implementasi rekomendasi ini akan meningkatkan kredibilitas jurnal yang ditulis serta mempercepat transisi PAZ dari praktik berbasis testimoni menuju tulisan yang lebih ilmiah.
Simpulan Reviewer
Sebagai penutup, jurnal yang ditulis dan dipublikasikan dalam Jurnal Teologi Islam ini merupakan kontribusi awal yang kuat dan penting.
Ia berhasil membuka wacana baru mengenai teologi struktur tubuh dan memberikan peta konseptual yang jelas untuk pengembangan penelitian selanjutnya.
Saya menilai bahwa jurnal yang ditulis layak mendapat perhatian luas, namun memerlukan kelanjutan metodologis guna menguatkan klaim klaim empiris.
Dengan rekomendasi penelitian lanjutan yang terstruktur, naskah yang dipublikasikan dapat berkembang menjadi program riset yang berdampak bagi disiplin ilmu kesehatan dan studi agama.
Untuk membaca naskah lengkap yang menjadi objek review ini, pembaca dapat mengakses link jurnal sumber di bawah. Naskah yang ditulis tersedia pada laman penerbitnya.