17 Fakta Efek Samping Berbahaya Pengobatan Modern yang Jarang Dibicarakan

PAZindonesia.com – Gaes, Pengobatan Modern Menjanjikan Kesembuhan, Namun Efek Samping Berbahayanya Tidak Bisa Diabaikan.

Benar, secara teknologi semakin hari semakin modern berkembang sangat pesat. Obat-obatan baru terus bermunculan dengan klaim ilmiah yang kuat, didukung riset, uji klinis, dan publikasi jurnal bereputasi.

Bagi masyarakat awam, ini memberi rasa aman. Selama berobat ke dokter dan minum obat secara rutin, penyakit dianggap terkendali.

Namun, dunia medis sendiri sejak lama mengakui satu fakta penting. Tidak ada obat yang sepenuhnya bebas risiko. Setiap obat memiliki potensi efek samping, terutama bila digunakan jangka panjang pada penyakit kronis.

Sebuah tinjauan besar di jurnal Anaesthesia menjelaskan bahwa adverse drug reactions atau reaksi obat merugikan merupakan salah satu penyumbang utama meningkatnya angka kesakitan dan kematian pasien, bahkan pada terapi yang dianggap standar dan rutin [1]. Hal ini dipertegas oleh ulasan di BMJ yang menyatakan bahwa semakin kompleks terapi obat, semakin tinggi pula risiko efek samping serius yang sering tidak disadari pasien maupun tenaga kesehatan [2].

Dengan kata lain, obat modern memang membantu, tetapi bantuan itu memiliki harga biologis yang harus dibayar tubuh.

Efek Samping Berbahaya Pengobatan Diabetes

Pada diabetes melitus tipe 2, obat modern terbukti menurunkan gula darah dan risiko kejadian kardiovaskular. Namun, data terbaru menunjukkan bahwa manfaat ini tidak selalu datang tanpa konsekuensi.

pelatihan paz al kasaw paz survival

Sebuah studi retrospektif global yang dipublikasikan di Circulation melaporkan bahwa penggunaan inhibitor SGLT2 dan agonis GLP-1 pada pasien diabetes tipe 2, khususnya yang memiliki penyakit autoimun, memang menurunkan risiko kematian dan kejadian jantung. Akan tetapi, obat-obatan ini juga dikaitkan dengan peningkatan risiko gangguan irama jantung, ketoasidosis diabetik yang mengancam nyawa, serta gangguan pencernaan berat seperti gastroparesis [3].

Artinya, pada sebagian pasien, penyakit lama belum benar benar tuntas, tetapi efek samping terapi justru melahirkan masalah baru.

Temuan lain dari European Journal of Preventive Cardiology menunjukkan bahwa pada pasien jantung koroner dengan diabetes, kadar asam lemak bebas dalam darah memiliki hubungan berbentuk U dengan mortalitas. Kadar yang terlalu rendah maupun terlalu tinggi sama-sama meningkatkan risiko kematian dan kejadian jantung mayor [4]. Ini menunjukkan bahwa manipulasi metabolik yang terlalu agresif tidak selalu identik dengan kesehatan yang lebih baik.

Efek Samping Berbahaya Penyakit Autoimun

Pada penyakit autoimun, pendekatan utama pengobatan modern adalah menekan sistem kekebalan tubuh. Strategi ini efektif mengendalikan peradangan, tetapi risikonya besar.

Efek

Ulasan ilmiah di Expert Review of Gastroenterology and Hepatology melaporkan bahwa terapi biologik dan imunosupresan meningkatkan risiko infeksi serius dan keganasan. Pasien memang mengalami penurunan gejala, tetapi juga menjadi lebih rentan terhadap penyakit lain akibat melemahnya pertahanan alami tubuh [5].

Risiko ini semakin nyata pada pasien kanker dengan penyakit autoimun. Studi di Journal of Clinical Oncology menemukan bahwa hampir seluruh pasien dalam kelompok ini mengalami efek samping terkait imun, termasuk gangguan hati, ginjal, tiroid, serta kambuhnya penyakit autoimun yang sebelumnya terkendali [6].

Di sini terlihat pola yang konsisten. Satu penyakit diredam, tetapi sistem tubuh lain ikut terdampak.

Efek Samping Berbahaya Pengobatan Asam Lambung

Obat asam lambung termasuk obat yang paling sering dikonsumsi jangka panjang.

Secara klinis, gejalanya memang cepat membaik.

Namun tinjauan di Frontline Gastroenterology menunjukkan bahwa penggunaan jangka panjang obat ini dikaitkan dengan gangguan penyerapan nutrisi penting, peningkatan risiko infeksi saluran cerna, serta potensi masalah tulang dan ginjal [7].

Efek samping ini sering muncul perlahan, bertahun tahun kemudian, sehingga jarang dikaitkan langsung dengan obat yang dikonsumsi setiap hari.

Penyakit Jantung dan Penyakit Kronis yang Saling Memperberat

Pada pasien penyakit jantung, terutama yang disertai diabetes dan kondisi kronis lain, risiko menjadi semakin kompleks.

Studi besar di Circulation menunjukkan bahwa pasien dengan diabetes dan penyakit jantung yang sudah ada sebelumnya memiliki risiko kejadian jantung baru yang jauh lebih tinggi, meskipun terapi sudah diberikan [8].

Hal ini menegaskan bahwa pengendalian angka klinis belum tentu berarti pemulihan sistem tubuh secara menyeluruh.

Benang Merah Ilmiahnya

Jika seluruh temuan ini dirangkai, satu kesimpulan ilmiah menjadi jelas.

Pengobatan modern sangat efektif untuk kondisi akut dan darurat.

Namun pada penyakit kronis dan degeneratif, pendekatan berbasis obat sering kali bersifat mengelola, bukan memulihkan.

Bahkan literatur farmakovigilans modern secara terbuka mengakui perlunya pendekatan yang lebih personal, hati hati, dan terintegrasi, termasuk strategi nonfarmakologis, untuk menjaga keselamatan pasien jangka panjang [2].

Mengapa Pendekatan Holistik Layak Dikaji Secara Rasional

Di sinilah terapi komplementer dan holistik memiliki tempat yang sah secara nalar.

Bukan menolak segala bentuk ikhtiar di medis, tetapi sebagai pelengkap.

Pendekatan seperti terapi PAZ Al Kasaw tidak menggunakan obat kimia, tidak menekan sistem tubuh, dan tidak menambah beban metabolik.

Fokusnya adalah mengembalikan keseimbangan struktur dan fungsi tubuh, agar sistem saraf, otot, dan organ dapat bekerja lebih optimal secara alami.

Dalam praktiknya, banyak penderita penyakit kronis dan degeneratif merasakan perbaikan kualitas hidup, berkurangnya keluhan, serta meningkatnya kemampuan tubuh untuk pulih.

Terapi semacam ini relatif aman, minim risiko efek samping, dan sejalan dengan kebutuhan jangka panjang pasien kronis yang sudah bertahun tahun bergantung pada obat.

Penutup

Ilmu kedokteran modern adalah nikmat besar dan harus dihormati.

Namun semakin berkembang ilmu itu, semakin jelas pula batasannya. Kesembuhan manusia tidak pernah datang dari satu jalur saja.

Ikhtiar yang bijak adalah ikhtiar yang terbuka.

Pembinaan Kader Kesehatan Remaja Dengan Terapi PAZ Al Kasaw

Menggunakan medis saat diperlukan, dan melengkapinya dengan pendekatan holistik yang membantu tubuh kembali bekerja sebagaimana mestinya.

Dalam konteks inilah terapi PAZ Al Kasaw dan pelatihan PAZ menjadi relevan. Bukan sekadar metode, tetapi sebuah cara pandang kesehatan yang lebih utuh, lebih manusiawi, dan lebih selaras dengan fitrah tubuh.

Bagi mereka yang ingin tidak hanya mengobati, tetapi memahami tubuh dan proses pemulihannya, belajar dan mengalami langsung pendekatan PAZ Al Kasaw adalah ikhtiar yang layak dipertimbangkan secara rasional dan bertanggung jawab.

Oke? CMIW

Mau Daftar Pelatihan PAZ Atau Terapi PAZ? Klik …

webp terapi paz klaten tombol reservasi terapi paz

Footnote

[1] Patton, K., & Borshoff, D. (2018). Adverse drug reactions. Anaesthesia, 73(S1), 76–84.

[2] Ferner, R. E., & McGettigan, P. (2018). Adverse drug reactions. BMJ, 360, k405.

[3] Anuforo, A., Somerville, A., Bhandari, J., et al. (2024). Impact of SGLT2 inhibitors and GLP-1 agonists on cardiovascular and renal outcomes in patients with type 2 diabetes mellitus and autoimmune diseases. Circulation.

[4] Pan, Y., Wu, T. T., Mao, X. F., et al. (2023). Decreased free fatty acid levels associated with adverse clinical outcomes in coronary artery disease patients with type 2 diabetes. European Journal of Preventive Cardiology, 30(7), 816–825.

[5] Quezada, S., McLean, L. P., & Cross, R. K. (2018). Adverse events in IBD therapy: The 2018 update. Expert Review of Gastroenterology & Hepatology, 12(9), 839–852.

[6] Vidula, N., Hutchinson, J., McLaren, A., et al. (2024). Immune-related adverse events in patients with breast cancer and autoimmune disease treated with immunotherapy. Journal of Clinical Oncology.

[7] Dhar, A., Maw, F., Dallal, H., et al. (2020). Side effects of drug treatments for gastro-oesophageal reflux disease: Current controversies. Frontline Gastroenterology, 11(3), 190–196.

[8] Worm, S. W., De Wit, S., Weber, R., et al. (2009). Diabetes mellitus, preexisting coronary heart disease, and the risk of subsequent coronary heart disease events in patients infected with HIV. Circulation, 119(6), 805–811.

Tuliskan Komentar Atau Pertanyaanmu:

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2025 PazIndonesia.com | All Rights Reserved | Ayub Camp, Klaten, Jawa Tengah, Indonesia
Towards Healthier Lives, Rahmatan lil ‘Alamin